Sudah 5 hari saya di Banda Aceh dalam rangka liburan. Berangkat ke Banda pas megang kedua (hari selasa, 5 Juli 2016). Cari suasana baru lebaran kali ini, makanya ga berlebaran di Langsa. Di Banda, udah hampir semua tempat wisata di Banda Aceh telah saya kunjungi. Anak-anak dan saya tinggal di rumah Makcik di Ulele. Bang Riski, Kak Ani, dan Dek Fatih (anak-anak kandung saya) suka sekali jalan-jalan ke Banda Aceh karena disini rame kali, terutama di Ulele tuh ga pernah sepi orang kalo sore menjelang. Beda jauh kalo dibandingkan dengan Langsa, tempat kami tinggal, menurut saya seh gitu.
Kemaren pagi (hari jum'at, 8 Juli 2016), tubuh terasa rontok akibat banyak kali jalan kaki ngunjungin tempat wisata. Saya ga bawa kereta karena ke Banda naik L300. Mau pinjam kereta orang rumah Makcik, lah mereka pake juga tuh kereta buat silaturahmi lebaran. Untuk menghilangkan pegal linu, kayaknya saya butuh pijat panggilan biar tubuh kembali bugar.
Saya pun buka website OLX yang katanya semua ada disana, termasuk pijat. Saya ga bisa ke kota karena jarak dari ulele ke kota sangat jauh, maka solusinya ya cari pemijat yang mau datang ke rumah.
Saya lihat nama pemijat yang wanita, asyik... ketemu. Pas saya telepon, rupanya laki-laki. Cari lagi nama wanita lain, telepon lagi, eh... Makhluk berburung lagi alias laki-laki. Masa seh ga ada pemijat wanita pasang iklan di OLX? Kenapa harus laki-laki semua? Hadeuh... Ga banget sama lelaki.
Andai masih punya suami, maka suami yang mijitin. Akh... Saya harus terima kenyataan kalo sekarang udah jadi janda, yang kuat menghidupi ketiga orang anak seorang diri. Pikiran pun melayang entah kemana hingga akhirnya suara Makcik menyadarkan saya dari lamunan.
"Kenapa melamun, Nak?" tanya Makcik.
Saya seka air mata yang sempat menetes agar Makcik ga melihat saya bersedih di hari kemenangan. Padahal, sudah 5 tahun saya menjanda, tapi kerap kenangan bersama mantan suami itu kerap melintas dan menyesakkan dada. Ya Allah... Berat rasanya melihat dia bersama wanita lain, sementara saya sendiri berjibaku membesarkan buah cinta kami.
"Badan sakit semua, butuh kusuk."
"Masuk kamar Nak, biar Makcik pijitin."
Akhirnya, Makcik juga yang pijitin. Teringat masa kecil ketika Makcik masih tinggal di Langsa, kalo urusan urut mengurut Makcik-lah jagoannya. Cuma karena udah gede, ya malu dong dipijit lagi, kecuali kalo terpaksa. Alhamdulillah, badan kembali bugar.
Sore hari di waktu senggang, anak-anak udah pada main entah kemana... Anak ABG secara gitu loh. Banyak waktu sendiri jadinya. Daripada bosen bertemankan sepi, iseng-iseng saya buat status di BBM: "Pemijat panggilan di OLX semuanya cowok, akhirnya dipijat Makcik."
Rupanya, ada temen S2 dulu yang tinggal di Ulee Kareng (Banda Aceh) yang respon. Sebut aja namanya "Bunga", disamarkan demi menjaga nama baik dia. Katanya, ada pemijat pria langganannya, yang baik, sopan, dan bersih... Tentu saja, yang pijatannya menggoda, terutama buat wanita kesepian seperti saya. Kurang ajar juga Bunga ini, tapi begitu ya kalo kawan sejati... Mengerti isi hati temannya.
Singkat cerita, karena penasaran, saya telepon nomor pemijat yang direkomendasikan oleh Bunga, lalu buat janjian ketemu dulu di dekat pintu masuk Pelabuhan Ulele. Lihat dulu nanti apa saya berubah pikiran atau tidak. Saya kesana ditemani Kak Ani, anak saya, naik kereta Pakcik. Saya deg-deg-an banget, rasanya seperti kencan pertama dengan seorang kekasih. Keringat dingin udah mulai terasa di tangan, padahal jumpa aja belum. Penasaran dan malu jadi satu.
"Bunda, kita tunggu siapa disini?" Kak Ani bertanya.
"Temen Bunda mau jumpa, katanya mau beli ini, cuma mau lihat barangnya dulu," Saya menunjukkan isi kantong plastik yang saya bawa pada Kak Ani.
Saya berbohong dan Kak Ani percaya. Maafkan Bunda ya.
Tiba-tiba, sebuah kereta berhenti di samping pintu masuk Pelabuhan Ulele. Saya yakin banget itulah sang pemijat, jantung saya berdetak 5x lebih cepat. Saya pucat menyaksikan wajahnya...
Bersambung ke Bagian II, baca disini.
Kemaren pagi (hari jum'at, 8 Juli 2016), tubuh terasa rontok akibat banyak kali jalan kaki ngunjungin tempat wisata. Saya ga bawa kereta karena ke Banda naik L300. Mau pinjam kereta orang rumah Makcik, lah mereka pake juga tuh kereta buat silaturahmi lebaran. Untuk menghilangkan pegal linu, kayaknya saya butuh pijat panggilan biar tubuh kembali bugar.
![]() |
| Gambar cuma ilustrasi saja |
Saya pun buka website OLX yang katanya semua ada disana, termasuk pijat. Saya ga bisa ke kota karena jarak dari ulele ke kota sangat jauh, maka solusinya ya cari pemijat yang mau datang ke rumah.
Saya lihat nama pemijat yang wanita, asyik... ketemu. Pas saya telepon, rupanya laki-laki. Cari lagi nama wanita lain, telepon lagi, eh... Makhluk berburung lagi alias laki-laki. Masa seh ga ada pemijat wanita pasang iklan di OLX? Kenapa harus laki-laki semua? Hadeuh... Ga banget sama lelaki.
Andai masih punya suami, maka suami yang mijitin. Akh... Saya harus terima kenyataan kalo sekarang udah jadi janda, yang kuat menghidupi ketiga orang anak seorang diri. Pikiran pun melayang entah kemana hingga akhirnya suara Makcik menyadarkan saya dari lamunan.
"Kenapa melamun, Nak?" tanya Makcik.
Saya seka air mata yang sempat menetes agar Makcik ga melihat saya bersedih di hari kemenangan. Padahal, sudah 5 tahun saya menjanda, tapi kerap kenangan bersama mantan suami itu kerap melintas dan menyesakkan dada. Ya Allah... Berat rasanya melihat dia bersama wanita lain, sementara saya sendiri berjibaku membesarkan buah cinta kami.
"Badan sakit semua, butuh kusuk."
"Masuk kamar Nak, biar Makcik pijitin."
Akhirnya, Makcik juga yang pijitin. Teringat masa kecil ketika Makcik masih tinggal di Langsa, kalo urusan urut mengurut Makcik-lah jagoannya. Cuma karena udah gede, ya malu dong dipijit lagi, kecuali kalo terpaksa. Alhamdulillah, badan kembali bugar.
Sore hari di waktu senggang, anak-anak udah pada main entah kemana... Anak ABG secara gitu loh. Banyak waktu sendiri jadinya. Daripada bosen bertemankan sepi, iseng-iseng saya buat status di BBM: "Pemijat panggilan di OLX semuanya cowok, akhirnya dipijat Makcik."
Rupanya, ada temen S2 dulu yang tinggal di Ulee Kareng (Banda Aceh) yang respon. Sebut aja namanya "Bunga", disamarkan demi menjaga nama baik dia. Katanya, ada pemijat pria langganannya, yang baik, sopan, dan bersih... Tentu saja, yang pijatannya menggoda, terutama buat wanita kesepian seperti saya. Kurang ajar juga Bunga ini, tapi begitu ya kalo kawan sejati... Mengerti isi hati temannya.
Singkat cerita, karena penasaran, saya telepon nomor pemijat yang direkomendasikan oleh Bunga, lalu buat janjian ketemu dulu di dekat pintu masuk Pelabuhan Ulele. Lihat dulu nanti apa saya berubah pikiran atau tidak. Saya kesana ditemani Kak Ani, anak saya, naik kereta Pakcik. Saya deg-deg-an banget, rasanya seperti kencan pertama dengan seorang kekasih. Keringat dingin udah mulai terasa di tangan, padahal jumpa aja belum. Penasaran dan malu jadi satu.
"Bunda, kita tunggu siapa disini?" Kak Ani bertanya.
"Temen Bunda mau jumpa, katanya mau beli ini, cuma mau lihat barangnya dulu," Saya menunjukkan isi kantong plastik yang saya bawa pada Kak Ani.
Saya berbohong dan Kak Ani percaya. Maafkan Bunda ya.
Tiba-tiba, sebuah kereta berhenti di samping pintu masuk Pelabuhan Ulele. Saya yakin banget itulah sang pemijat, jantung saya berdetak 5x lebih cepat. Saya pucat menyaksikan wajahnya...
Bersambung ke Bagian II, baca disini.

3 komentar:
ijin nyimak sis
lagi enak baca bersambung
ditunggu kelanjutannya sis
Terima kasih, saya mau lanjutkan nulisnya. Cerita ini 100% kisah nyata pengalaman pribadi saya. Semoga bisa menjadi referensi buat yang lain.
seru banget...
Posting Komentar